My First Labor Experience
Pengalaman melahirkan anak pertama. Saya baru percaya tentang melahirkan itu mitosnya " antara hidup dan mati" 😄, untuk buibu yang sudah melahirkan selamat menjadi wanita seutuhnya.
Alhamdulillah anak pertama kami lahir dengan persalinan normal induksi. Saya dan suami dari awal kehamilan berniat untuk melahirkan normal tanpa induksi. namun baby M (panggilan saya untuk janin yang di perut) belum menunjukkan tanda-tanda mau keluar dari perut emaknya. Akhirnya saya melanjutkan konsultasi ke dokter.
n
Sabtu, 6 Januari 2018 - Pukul19:30 WIB
Alhamdulillah anak pertama kami lahir dengan persalinan normal induksi. Saya dan suami dari awal kehamilan berniat untuk melahirkan normal tanpa induksi. namun baby M (panggilan saya untuk janin yang di perut) belum menunjukkan tanda-tanda mau keluar dari perut emaknya. Akhirnya saya melanjutkan konsultasi ke dokter.
n
Sabtu, 6 Januari 2018 - Pukul19:30 WIB
Jadwal kontrol ke dokter pada kehamilan minggu ke 39. Saya dapat nomor urut 42 dengan Dokter Rikka Mulya Warman di RS Hermina Grand Wisata. Setelah menunggu beberapa jam akhirnya nama saya dipanggil. Kontrol kali ini agak sedikit deg-deg an, pasalnya pada kehamilan 37 minggu mengalami kekurangan air ketuban. Kekurangan air ketuban yang saya alami dipengaruhi oleh pekerjaan yang hectic di kantor. Sehingga saya lupa untuk minum yang banyak, biasanya saya biasa minum 2-3 liter perhari pada minggu itu rata-rata hanya 1,5-2 liter perhari. Saran untuk buibu yang ingin mengalami induksi alami perbanyak minum air putih dan kurangi konsumsi kafein. Kehamilan minggu 38 saya push untuk minum air putih 3-4 liter per hari dan taraaaa pas dicek ketuban pada kehamilan 38 minggu mencapai skala 10,5 sementara syarat untuk dapat melahirkan normal minimal diatas skala 9.
Akhirnya dokter Rikka melakukan USG pada baby M, berat badannya tidak bertambah setelah seminggu. Jantung makin ga karuan detaknya, kemudian dilakukan pengukuran skala air ketuban, menunjukkan skala 7, makin gemeteran seluruh tubuh. Selanjutnya dokter Rikka melakukan pemeriksaan pembukaan serviks, agak risih sih saat dilakukan pemeriksaan pembukaan serviks (googling aja kalo penasaran). Hasilnya saya sudah pembukaan 1. Wow aja udah bukaan 1 tapi ga tau kalo udah bukaan 1. Hal yang saya rasakan sebelumnya cuma sakit perut seperti sedang mens dengan skala ringan, karena masih bisa ditahan rasa sakitnya.
Berdasarkan observasi tersebut akhirnya dokter Rikka menyarankan saya untuk dirawat inap dan dilakukan induksi agar segera dapat melahirkan normal. Seharusnya bisa ditunggu kontraksi alami dari baby M, cuma karena air ketuban yang berkurang ga tau penyebab berkurangnya. Jika ingin tetap melahirkan normal harus segera diinduksi, karena dikhawatirkan air ketuban yang makin sedikit menyebabkan persalinan dengan cara operasi caesar.
Suster bantu menjelaskan administrasi dan prosedur rawat inap. Hal pertama yang dilakukan yaitu menyetujui untuk dilakukan induksi, pengukuran detak jantung janin, dan proses induksi. Setelah semua administrasi selesai, saya disuruh cek darah terlebih dahulu, darah diambil dari darah vena. Tahapan selanjutnya saya diarahkan ke ruang persalinan, dengan langkah ragu saya dan suami memasuki ruang administrasi persalinan untuk didata ulang, kebetulan disana ada yang sedang melahirkan, lebih tepatnya menahan sakitnya kontraksi. ruang penuh dengan suara buibu tersebut yang nahan sakit kontraksi. saya membatin "kok melahirkannya berisik banget sih, tahan aja napa sih." dengan jantung yang deg-deg an saya menunggu instruksi selanjutnya dari bidan jaga. Bidan jaga klarifikasi data dan kelengkapan administrasi. Bidan jaga menanyakan apakah sudah ada mules, saya memang dari 3 hari yang lalu sudah ada mules tiap malam cuma masih bisa ditahan.
Well, akhirnya tiduran dikasur dengan baju ganti dari RS Hermina, sementara suami pulang ambil barang-barang untuk persalinan yang telah dipacking sebelumnya.
Minggu, 7 Januari 2018 - Pukul 00:30 WIB
Setelah tiduran beberapa menit akhirnya dilakukan pengukuran detak jantung janin, hal ini bertujuan kemampuan janin untuk bertahan dari efek induksi (efek induksi dapat menurunkan detak jantung janin). Standar yang diharapkan yaitu minimal 120 detak per menit, jika janin memiliki detak jantung rata-rata dibawah 120 per jmenit maka harus dilakukan operasi caesar. pengukuran dilakukan selama 30 menit setiap 10 menit suster jaga memantau detak jantung janin. detak jantung baby M sempat dibawah 120 per menit sebanyak 4 kali. Setelah 20 menit pengukuran detak jantung janin, suami saya datang, setiap kali baby M memiliki detak jantung dibawah 120 detak per menit, Abi (panggilan ayah untuk baby M) - nya membisikan shalawat nabi ke baby M yang masih nongkrong diperut. Alhamdulillah anakku cerdas dan detak jantungnya kembali normal diatas 120 per menit. Hasil akhir dari pengukuran dilaporkan ke dokter Rikka dengan statistik 4 kali dibawah 120 per menit. Dokter Rikka memutuskan untuk melanjutkan proses induksi.
Finally, induksi dilakukan melalui serviks. Induksi dilakukan pukul 01:00 dini hari, reaksinya saya rasakan jam 3:30 dini hari. reaksi awal masih bisa ditahan, rasanya kayak sakit perut saat mens. Waktu terus berputar tiktoktiktok akhirnya adzan subuh datang, saya ingin sholat dimushola yang berada di lantai enam, sementara ruang bersalin di lantai 2. Suami sempat khawatir karena harus jalan banyak, mitosnya sih kaljo mau bukaan cepat harus banyak jalan. Selesai sholat subuh, balik keruang bersalin, tiduran sambil nahan kontraksi, cek bukaan masih bukaan 2 plus bloody show (dikit banget sih). Ketuban pecah jam 6, pertama kali tau rasanya pecah ketuban itu kayak ga bisa dikontrol, gerak dikit air ketubannya keluar. Sedikit panik, pasalnya air ketuban dari awal memang sedikit jadi kalo bukaan ga cepet dan ketuban makin sedikit, ujung-ujungnya operas. Saya dan suami berdoa agar bisa lahiran normal dan baby M bisa mencari jalan lahir dengan cepat. Alhamdulillah doa kami diijabah, bidan jaga akan melakukan induksi kedua melalui infus gara-gara sudah pecah ketuban. Pecah ketuban dapat menyebabkan bayi terinfeksi, sehingga saya diberikan antibiotik, sebelum diberikan antibiotik dilakukan uji alergi terhadap antibiotik dibawah kulit. Masyaallah, itu sakitnya disuntik dibawah kulit lebih-lebih dari suntikan biasanya. Setelah 30 menit menunggu reaksi alergi akhirnya antibiotik diinfuskan dan selang oksigen dipasang agar saya dan bayi tidak kekurangan oksigen. Posisi saya masih tidur telentang, kemudain bidannya menyarankan miring kekiri agar bayinya dapat oksigen. Saya pun miring kekiri, kontraksi dengan posisi miring kekiri lebih sakit daripada telentang.
Pemeriksaan bukaan serviks dilakukan lebih sering, melihat keluh kesah yang udah lebay dari mulut saya. Pukul 09:00 saya sudah bukaan 6, percayalah tak ada yang lebih nikmat dari bukaan 6 ke atas. Pembukaan 6-10 buibu akan merasakan sensasi pengen ngeden tapi ga boleh ngeden. Pada tahap inilah karakter asli buibu akan kelihatan, dan saya dengan bawelnya ngeluh mulu ke suami. Suster yang lagi benerin infus juga saya bawelin dan saya cengkram tangannya.
"suster sakit, pengen ngeden" rintih saya.
"iya ibu sabar ya jangan ngeden kasian dede-nya ntar keteken, tarik nafasnya hembuskan pelan-pelan, ya pinter" jawab suster dengan entengnya.
Saya melakukan apa yang disarankan suster. teknik relaksasi ini sudah saya lakukan dari bukaan 3 dan ngefek untuk kontraksi bukaan 5 kebawah. Namun, untuk bukaan 6 keatas teknik ini tidak mempan. Hal yang saya lakukan saat bukaan 6 hanya berdoa dalam hati semoga saya dan bayi kuat, sambil megang tangan suami dan menatap matanya. Sesekali kontraksi berhenti saya pejamkan mata mencoba istirahat, efek ngalong tadi malam mulai terasa. Saat bukaan 5 saya meminta maaf ke suami dan meminta doa nya agar bukaannya lancar, alhamdulillah jam 09:30 saya sudah bukaan 7.
Bidan jaga tetiba mengatakan "Bapak dokter Rikka sedang dalam tindakan operasi di Bekasi" ucapnya ke suami saya yang dari awal selalu berada disamping saya.
Sontak suami saya terdiam, saya pun kaget dan hening sesaat.
"Dokter yang bisa membantu saat ini dokter Anandia" sambung bidan.
"ya udah gapapa dok" ucap suami saya.
"tapi dokter anandia ini cowo, gapapa?" tanya bidan balik.
Suami saya diam untuk beberapa detik, saya yang sudah tak ada tenaga menoleh ke arahnya.
Dengan yakin dia menjawab "iya gapapa bu, yang penting anak dan istri saya cepat ditangani."
mendengar jawabannya saya sedikit kaget, karena dia orang yang sangat menjaga istrinya dari yang bukan mahram.
Dia menoleh ke saya sambil mengusap lembut ubun-ubun saya dan berkata "insyaallah gapapa ya umi dokternya cowo, yang penting baby M dan umi selamat ya"
Saya hanya bisa menganggukan kepala saking lemasnya nahan sakit.
"semangat ya ntar ngedennya biar cepat bisa ketemu baby M" tambah suami saya yang masih berdiri disamping saya dan masih mengenggam tangan saya.
Dan kontraksi dasyat itu datang lagi saya melakukan ritual itu lagi dan lagi.
"abi sakit" saya merintih dengan suara lemah.
"iya sabar ya, ayo tarik lagi nafasnya yang dalam buangnya pelan-pelan"
Saya pun melakukannya walaupun tidak ada efek apa apa, yang paling menenangkan saat itu hanya genggaman tangan dan tatapan mata suami saya.
"semangat ya sayang jangan nyerah, baby M aja lagi berjuang tu cari jalannya. jadi kamu harus lebih kuat ya."
lagi lagi balasan saya hanya menganggukan kepala.
Dan bidan jaga mengatakan kalau sudah bukaan lengkap.
"sini pak lihat udah keliatan rambut dede bayinya" sahut bidan jaga yang dari tadi memastikan bukaan serviks saya.
seketika suami saya mendekati bidan untuk melihat baby M yang kepalanya udah nongol.
"umi iya udah keliatan, semangat ya dikit lagi insyaallah kita ketemu baby M"
Suster bantu menelpon dokter Anandia, beberapa menit kemudian dokter datang.
Dokter Anandia dengan rambut sedikt diwarnai putih, dari kejauhan saya pikir dokter tersebut sudah tua karena saya tidak sedang menggunakan kacamata.
"ok ibu bukaannya sudah lengkap, nanti kalo udah ada mules ngeden ya yang kenceng" ucap dokter Anandia.
Beberapa menit saya istirahat karena tidak ada kontraksi. Sementara bidan dan dokter sudah membuka jalan lahir untuk persiapan menyambut si baby M.
Kontraksi yang saya tunggu pun datang. Well, otak saya langsung bekerja untuk mengingat teknik ngeden yang benar dari senam hamil yang telah saya ikuti sebelumnya.
"ayo ibu ayo ibu pasti bisa dikit lagi ibu kepalanya udah keliatan." entah bidan atau dokter yang teriak, saya sedang fokus ke ngeden yang bener.
Ok, ngeden pertama sukses sesuai senam hamil, namun tenaga sudah ga ada alhasil kepala baby M masi belum keluar.
"yah ibu kok berhenti ngedennya" ucap dokter Anandia. "ayo atur nafasnya bu, ngeden lagi ya" sambung dokter.
"ya Allah dokter ini cuma sisa tenaga saya yang terakhir dok, lemes banget" batin saya.
Akhirnya dokter membantu dengan menekan perut saya serta saya disuruh ngeden ya kedua. Akhirnya berhasil setelah ngeden yang ketiga dan dibantu bidan dan suster menekan perut saya, sementara dokter Anandia mengunting sedikit jalan lahir atau istilah medisnya episiotomi.
Tepat menit 09:57 WIB baby M berhasil saya keluarkan dengan tiga kali ngeden, sekali ngeden yang bener dan dua kali ngeden yang salah. Benar kata orang, dibutuhkan tenaga ekstra untuk ngeden, jadi saat kontraksi jangan teriak dan ngeluh cuma buang energi.
Tapi ya namanya juga rencana ga tau berhasil atau ga, semua buibu sih diawalnya pasti pengen hemat tenaga. Kenyataan tak seindah rencana bung (yailah apa-apaan sih).
Saat baby M keluar rasanya lega banget, kayak selese pup yang udah ditahan berjam-jam. Masih saya ingat teriakan pertama baby M, tidak terlalu kenceng. Sesaat saya menarik nafas lega, tetiba.
Suster dengan lincahnya sudah berada disamping kiri saya "Ibu paha kirinya saya suntik ya"
saya belum menjawab, jlub jarum suntik sudah menancap di paha kiri saya.
"terserah suster deh saya lemes banget" saya membatin sambil melirik paha saya yang sakitnya suntikan sudah menjadi level 1 dibanding sakit kontraksi melahirkan yang levelnya unlimited deh.
Tapi alhamdulillah baby M lahir utuh dan sehat, masyaallah. Sementara baby dibersihkan untuk persiapan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), saya dipersiapkan untuk menjahit robekan tadi.
Perjuangan saya belum berakhir baru akan dimulai. Semoga pengalaman saya bisa bermanfaat untuk buibu yang baru pertama kali hamil ya. Kesimpulannya rasa sakit melahirkan akan buibu lupakan segera setelah adanya buah hati yang buibu tunggu. selamat menjadi Ibu ya.
Akhirnya dokter Rikka melakukan USG pada baby M, berat badannya tidak bertambah setelah seminggu. Jantung makin ga karuan detaknya, kemudian dilakukan pengukuran skala air ketuban, menunjukkan skala 7, makin gemeteran seluruh tubuh. Selanjutnya dokter Rikka melakukan pemeriksaan pembukaan serviks, agak risih sih saat dilakukan pemeriksaan pembukaan serviks (googling aja kalo penasaran). Hasilnya saya sudah pembukaan 1. Wow aja udah bukaan 1 tapi ga tau kalo udah bukaan 1. Hal yang saya rasakan sebelumnya cuma sakit perut seperti sedang mens dengan skala ringan, karena masih bisa ditahan rasa sakitnya.
Berdasarkan observasi tersebut akhirnya dokter Rikka menyarankan saya untuk dirawat inap dan dilakukan induksi agar segera dapat melahirkan normal. Seharusnya bisa ditunggu kontraksi alami dari baby M, cuma karena air ketuban yang berkurang ga tau penyebab berkurangnya. Jika ingin tetap melahirkan normal harus segera diinduksi, karena dikhawatirkan air ketuban yang makin sedikit menyebabkan persalinan dengan cara operasi caesar.
Suster bantu menjelaskan administrasi dan prosedur rawat inap. Hal pertama yang dilakukan yaitu menyetujui untuk dilakukan induksi, pengukuran detak jantung janin, dan proses induksi. Setelah semua administrasi selesai, saya disuruh cek darah terlebih dahulu, darah diambil dari darah vena. Tahapan selanjutnya saya diarahkan ke ruang persalinan, dengan langkah ragu saya dan suami memasuki ruang administrasi persalinan untuk didata ulang, kebetulan disana ada yang sedang melahirkan, lebih tepatnya menahan sakitnya kontraksi. ruang penuh dengan suara buibu tersebut yang nahan sakit kontraksi. saya membatin "kok melahirkannya berisik banget sih, tahan aja napa sih." dengan jantung yang deg-deg an saya menunggu instruksi selanjutnya dari bidan jaga. Bidan jaga klarifikasi data dan kelengkapan administrasi. Bidan jaga menanyakan apakah sudah ada mules, saya memang dari 3 hari yang lalu sudah ada mules tiap malam cuma masih bisa ditahan.
Well, akhirnya tiduran dikasur dengan baju ganti dari RS Hermina, sementara suami pulang ambil barang-barang untuk persalinan yang telah dipacking sebelumnya.
Minggu, 7 Januari 2018 - Pukul 00:30 WIB
Setelah tiduran beberapa menit akhirnya dilakukan pengukuran detak jantung janin, hal ini bertujuan kemampuan janin untuk bertahan dari efek induksi (efek induksi dapat menurunkan detak jantung janin). Standar yang diharapkan yaitu minimal 120 detak per menit, jika janin memiliki detak jantung rata-rata dibawah 120 per jmenit maka harus dilakukan operasi caesar. pengukuran dilakukan selama 30 menit setiap 10 menit suster jaga memantau detak jantung janin. detak jantung baby M sempat dibawah 120 per menit sebanyak 4 kali. Setelah 20 menit pengukuran detak jantung janin, suami saya datang, setiap kali baby M memiliki detak jantung dibawah 120 detak per menit, Abi (panggilan ayah untuk baby M) - nya membisikan shalawat nabi ke baby M yang masih nongkrong diperut. Alhamdulillah anakku cerdas dan detak jantungnya kembali normal diatas 120 per menit. Hasil akhir dari pengukuran dilaporkan ke dokter Rikka dengan statistik 4 kali dibawah 120 per menit. Dokter Rikka memutuskan untuk melanjutkan proses induksi.
Finally, induksi dilakukan melalui serviks. Induksi dilakukan pukul 01:00 dini hari, reaksinya saya rasakan jam 3:30 dini hari. reaksi awal masih bisa ditahan, rasanya kayak sakit perut saat mens. Waktu terus berputar tiktoktiktok akhirnya adzan subuh datang, saya ingin sholat dimushola yang berada di lantai enam, sementara ruang bersalin di lantai 2. Suami sempat khawatir karena harus jalan banyak, mitosnya sih kaljo mau bukaan cepat harus banyak jalan. Selesai sholat subuh, balik keruang bersalin, tiduran sambil nahan kontraksi, cek bukaan masih bukaan 2 plus bloody show (dikit banget sih). Ketuban pecah jam 6, pertama kali tau rasanya pecah ketuban itu kayak ga bisa dikontrol, gerak dikit air ketubannya keluar. Sedikit panik, pasalnya air ketuban dari awal memang sedikit jadi kalo bukaan ga cepet dan ketuban makin sedikit, ujung-ujungnya operas. Saya dan suami berdoa agar bisa lahiran normal dan baby M bisa mencari jalan lahir dengan cepat. Alhamdulillah doa kami diijabah, bidan jaga akan melakukan induksi kedua melalui infus gara-gara sudah pecah ketuban. Pecah ketuban dapat menyebabkan bayi terinfeksi, sehingga saya diberikan antibiotik, sebelum diberikan antibiotik dilakukan uji alergi terhadap antibiotik dibawah kulit. Masyaallah, itu sakitnya disuntik dibawah kulit lebih-lebih dari suntikan biasanya. Setelah 30 menit menunggu reaksi alergi akhirnya antibiotik diinfuskan dan selang oksigen dipasang agar saya dan bayi tidak kekurangan oksigen. Posisi saya masih tidur telentang, kemudain bidannya menyarankan miring kekiri agar bayinya dapat oksigen. Saya pun miring kekiri, kontraksi dengan posisi miring kekiri lebih sakit daripada telentang.
Pemeriksaan bukaan serviks dilakukan lebih sering, melihat keluh kesah yang udah lebay dari mulut saya. Pukul 09:00 saya sudah bukaan 6, percayalah tak ada yang lebih nikmat dari bukaan 6 ke atas. Pembukaan 6-10 buibu akan merasakan sensasi pengen ngeden tapi ga boleh ngeden. Pada tahap inilah karakter asli buibu akan kelihatan, dan saya dengan bawelnya ngeluh mulu ke suami. Suster yang lagi benerin infus juga saya bawelin dan saya cengkram tangannya.
"suster sakit, pengen ngeden" rintih saya.
"iya ibu sabar ya jangan ngeden kasian dede-nya ntar keteken, tarik nafasnya hembuskan pelan-pelan, ya pinter" jawab suster dengan entengnya.
Saya melakukan apa yang disarankan suster. teknik relaksasi ini sudah saya lakukan dari bukaan 3 dan ngefek untuk kontraksi bukaan 5 kebawah. Namun, untuk bukaan 6 keatas teknik ini tidak mempan. Hal yang saya lakukan saat bukaan 6 hanya berdoa dalam hati semoga saya dan bayi kuat, sambil megang tangan suami dan menatap matanya. Sesekali kontraksi berhenti saya pejamkan mata mencoba istirahat, efek ngalong tadi malam mulai terasa. Saat bukaan 5 saya meminta maaf ke suami dan meminta doa nya agar bukaannya lancar, alhamdulillah jam 09:30 saya sudah bukaan 7.
Bidan jaga tetiba mengatakan "Bapak dokter Rikka sedang dalam tindakan operasi di Bekasi" ucapnya ke suami saya yang dari awal selalu berada disamping saya.
Sontak suami saya terdiam, saya pun kaget dan hening sesaat.
"Dokter yang bisa membantu saat ini dokter Anandia" sambung bidan.
"ya udah gapapa dok" ucap suami saya.
"tapi dokter anandia ini cowo, gapapa?" tanya bidan balik.
Suami saya diam untuk beberapa detik, saya yang sudah tak ada tenaga menoleh ke arahnya.
Dengan yakin dia menjawab "iya gapapa bu, yang penting anak dan istri saya cepat ditangani."
mendengar jawabannya saya sedikit kaget, karena dia orang yang sangat menjaga istrinya dari yang bukan mahram.
Dia menoleh ke saya sambil mengusap lembut ubun-ubun saya dan berkata "insyaallah gapapa ya umi dokternya cowo, yang penting baby M dan umi selamat ya"
Saya hanya bisa menganggukan kepala saking lemasnya nahan sakit.
"semangat ya ntar ngedennya biar cepat bisa ketemu baby M" tambah suami saya yang masih berdiri disamping saya dan masih mengenggam tangan saya.
Dan kontraksi dasyat itu datang lagi saya melakukan ritual itu lagi dan lagi.
"abi sakit" saya merintih dengan suara lemah.
"iya sabar ya, ayo tarik lagi nafasnya yang dalam buangnya pelan-pelan"
Saya pun melakukannya walaupun tidak ada efek apa apa, yang paling menenangkan saat itu hanya genggaman tangan dan tatapan mata suami saya.
"semangat ya sayang jangan nyerah, baby M aja lagi berjuang tu cari jalannya. jadi kamu harus lebih kuat ya."
lagi lagi balasan saya hanya menganggukan kepala.
Dan bidan jaga mengatakan kalau sudah bukaan lengkap.
"sini pak lihat udah keliatan rambut dede bayinya" sahut bidan jaga yang dari tadi memastikan bukaan serviks saya.
seketika suami saya mendekati bidan untuk melihat baby M yang kepalanya udah nongol.
"umi iya udah keliatan, semangat ya dikit lagi insyaallah kita ketemu baby M"
Suster bantu menelpon dokter Anandia, beberapa menit kemudian dokter datang.
Dokter Anandia dengan rambut sedikt diwarnai putih, dari kejauhan saya pikir dokter tersebut sudah tua karena saya tidak sedang menggunakan kacamata.
"ok ibu bukaannya sudah lengkap, nanti kalo udah ada mules ngeden ya yang kenceng" ucap dokter Anandia.
Beberapa menit saya istirahat karena tidak ada kontraksi. Sementara bidan dan dokter sudah membuka jalan lahir untuk persiapan menyambut si baby M.
Kontraksi yang saya tunggu pun datang. Well, otak saya langsung bekerja untuk mengingat teknik ngeden yang benar dari senam hamil yang telah saya ikuti sebelumnya.
"ayo ibu ayo ibu pasti bisa dikit lagi ibu kepalanya udah keliatan." entah bidan atau dokter yang teriak, saya sedang fokus ke ngeden yang bener.
Ok, ngeden pertama sukses sesuai senam hamil, namun tenaga sudah ga ada alhasil kepala baby M masi belum keluar.
"yah ibu kok berhenti ngedennya" ucap dokter Anandia. "ayo atur nafasnya bu, ngeden lagi ya" sambung dokter.
"ya Allah dokter ini cuma sisa tenaga saya yang terakhir dok, lemes banget" batin saya.
Akhirnya dokter membantu dengan menekan perut saya serta saya disuruh ngeden ya kedua. Akhirnya berhasil setelah ngeden yang ketiga dan dibantu bidan dan suster menekan perut saya, sementara dokter Anandia mengunting sedikit jalan lahir atau istilah medisnya episiotomi.
Tepat menit 09:57 WIB baby M berhasil saya keluarkan dengan tiga kali ngeden, sekali ngeden yang bener dan dua kali ngeden yang salah. Benar kata orang, dibutuhkan tenaga ekstra untuk ngeden, jadi saat kontraksi jangan teriak dan ngeluh cuma buang energi.
Tapi ya namanya juga rencana ga tau berhasil atau ga, semua buibu sih diawalnya pasti pengen hemat tenaga. Kenyataan tak seindah rencana bung (yailah apa-apaan sih).
Saat baby M keluar rasanya lega banget, kayak selese pup yang udah ditahan berjam-jam. Masih saya ingat teriakan pertama baby M, tidak terlalu kenceng. Sesaat saya menarik nafas lega, tetiba.
Suster dengan lincahnya sudah berada disamping kiri saya "Ibu paha kirinya saya suntik ya"
saya belum menjawab, jlub jarum suntik sudah menancap di paha kiri saya.
"terserah suster deh saya lemes banget" saya membatin sambil melirik paha saya yang sakitnya suntikan sudah menjadi level 1 dibanding sakit kontraksi melahirkan yang levelnya unlimited deh.
Tapi alhamdulillah baby M lahir utuh dan sehat, masyaallah. Sementara baby dibersihkan untuk persiapan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), saya dipersiapkan untuk menjahit robekan tadi.
Perjuangan saya belum berakhir baru akan dimulai. Semoga pengalaman saya bisa bermanfaat untuk buibu yang baru pertama kali hamil ya. Kesimpulannya rasa sakit melahirkan akan buibu lupakan segera setelah adanya buah hati yang buibu tunggu. selamat menjadi Ibu ya.
Komentar
Posting Komentar